Mengawinkan Kambing Lokal

By iskak - Februari 20, 2019

Di pedesaan pegunungan Trenggalek Jawa Timur proses mengawinkan kambing secara tradisional masih dilakukan oleh para petani hingga saat ini. Alasanya beragam. Mulai dari fakor uang, kepraktisan, atau kesulitan mendatangkan dokter hewan.



Sebagai contoh jarak rumah saya sendiri dengan rumah dokter hewan terdekat sekitar 5 kilometer.  Apabila ditempuh menggunakan sepeda motor memamkan waktu sekitar 30 - 45 menit. Karena rute perjalanan banyak melalui tanjakan dan turunan curam. Kontras dengan berkendara di kawasan dataran atau perkotaan.


Kata warga dokter hewan rata-rata memasang tarif sekitar 50 ribuan untuk sekali menginseminasi seekor kambing. Sementara penghasilan masyarakat petani di desa tidak menentu. Perolehan penghasilan uang senilai lima puluh ribu baru bisa didapat ketika sudah ada panenan dijual. Jika itu biji coklat kering maka butuh sekitar 3 kilogram, atau kalau pisang awak sejumlah 5 tandan. Kenyataan ini sangat memberatkan, atas dasar gotong royong masyarakat membentuk sistem persaudaraan dengan menggratiskan pemintaan mengawinkan kambing sesama petani. Terkadang sebagai tanda terima kasih jika mengawinkan kambing lebih dari seekor, si pemilik kambing betina akan memberi satu pack rokok kretek.

Hasil pembuahan dari perkawinan kambing ini terkadang tidak selalu langsung berhasil. Apabila kambing betina kembali bersuara (mengembek :red)  secara terus-menerus seminggu setelah dikawinkan maka itu artinya ia gagal. Si pemilik harus mengawinkan lagi sampai pembuahan berhasil dan betina hamil.

Bagi kambing jantan sering-sering kawin akan memiliki dampak kurang baik. Berat tubuhnya menurun dan nafsu makannya berkurang. Maka si pemilik kambing jantan akan menolak secara halus apabila ada pemintaan kawin berlebih dengan mengarahkan atau memberi referensi kepada tetangga lain yang memiliki pejantan. 

Sementara bagi kambing betina ketika sudah mulai minta kawin harus segera dipenuhi. Penundaan akan berefek kemandulan. Adapun tanda-tanda adanya kemandulan dimulai dari berhenti minta kawin dan perubahan bentuk tubuh semakin gemuk. 

Waktu mengawinkan kambing paling tepat adalah pagi hari. Berdasarkan keterangan paman saya, pemilihan ini didasarkan pada alasan tingkat ereksi kambing ketika pagi hari sedang pada puncaknya. Ditambah energi kambing masih banyak setelah semalam istirahat. Kondisi ini memungkinkan pejantan naik lebih banyak dibanding kawin pada waktu siang atau sore hari.


Bagi yang menonton perkawinan kambing secara langsung efek suara-suara kambing jantan beserta gerakannya akan menimbulkan tafsir-tafsir liar. Imaji sensual tersebut tentu meledak bersama tawa. Terkadang hal ini seperti menertawai ke-tabuan di tengah masyarakat.

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar