Kegiatan kerja bakti seperti ini sudah menjadi bagian dari tradisi masyarakat pedesaan di Trenggalek Jawa Timur. Sesuai namanya (bakti: red) semua pekerja tidak ada yang dibayar. Niat memprioritaskan pemenuhan kebutuhan bersama dilakukan secara ikhlas. Hidangan kopi, teh, gorengan, rokok, atau jajanan warung adalah sekedar teman lelah dari sumbangan mereka yang secara kebetulan berhalangan ikut. Bisa dibilang sebagai tanda solidaritas sosial.
Waktu kerja bakti dimulai pukul delapan pagi sampai sebelas siang. Maksimal dzuhur. Maklum, jarak perjalan sebagian rumah warga terjauh, ada yang baru sampai 15 menit jalan kaki. Lagipula sebelum sebelum pukul tujuh pagi para petani masih disibukkan oleh urusan domestik. Seperti mengurus ternak dan membantu istri. Kegiatannya bisa menyiapkan kayu bakar, mengupas kelapa, mengambilkan air, dsb. Ditambah lagi kerja bakti selalu menguras tenaga mau tidak mau harus sarapan dulu agar tidak lemas.
Tidak selamanya masyarakat senang akan adanya kerja bakti. Terkadang ditengah kegiatan kerja bakti muncul desas-desus bahwa pekerjaan mereka sebenarnya adalah proyek. Dimana seharusnya ada anggaran bagi para pekerjanya. Karena para kontraktor umumnya orang-orang dilingkaran pejabat desa. Mereka dikabarkan bersekongkol dengan para pejabat agar memerintahkan kerja bakti. Sehingga anggaran dana untuk upah pekerja bisa dimasukkan di kantong pribadi.
Setelah para pejabat desa yang culas pergi. Masyarakat secara bisik-bisik akan mulai mengutuk dan memintakan datangnya karma kepada mereka. Hal ini terjadi akibat orang-orang yang konon sebagai pengawas proyek seperti dicantumkan dalam skema pembangunan desa tidak menjalankan tugasnya. Barangkali sudah ada kong kali kong.Dan perhitungan mereka desa ini letaknya pinggiran sehingga sangat aman dan belum tentu sepuluh tahun sekali ada pejabat lewat memergoki kodisi sebenarnya.
Bagi masyarakat desa yang minim pengetahuan tidak ada jalan lain selain tetap mengikuti siklus seperti ini dari tahun ke tahun. Mereka akan lebih memilih mengalah dari dari pada dipersulit mengurus adminsitrasi yang jarak tempuh ke kantor catatan sipilnya 70 kilometer.
Kenyataan hidup bermasyarakat di tengah pedesaan memang harus bisa sering-sering berdamai dengan keadaan. Istilah hidup adalah pilihan seperti dalam buku-buku motivasi disini tidak relevan. Karena pilihan-pilihan itu bukan cuma ditentukan, tapi masyarakat juga diarahkan oleh pihak-pihak berkepentingan lewat aneka bayang-bayangnya.







0 komentar