Ayam Kampung

By iskak - Februari 22, 2019

Kehidupan ayam kampung di pedesaan sangat bebas. Para peternak yang umumnya berprofesi sebagai petani hanya memberi makan mereka sehari sekali. Setelah itu ayam dibiarkan bermain, pacaran, nongkrong, ngerumpi bersama temannya, atau kawin. Meski demikian ayam-ayam ini tetap memilih sebagian besar waktunya digunakan untuk jalan-jalan mencari susuk emas sambil mengais sisa-sisa makanan manusia atau serangga.
Sedikit informasi bagi yang belum tahu. Ayam merupakan kelompok hewan omnivora. Artinya pemakan segala. Meski dari bentuk paruhnya didesain untuk mengambil biji-bijian nyatanya ketika ada anak tikus belum melek, serangga, rumput muda bisa ludes diganyang. Takaran makan ayam kampung liar seperti ini tidak ada yang tahu. Sebab ketika ada petani menjemur gabah ayam-ayam kalau dibiarkan akan makan tanpa henti sambil mengeluarkan kotoran. Bentuk keserakahan inilah yang oleh para leluhur dijadikan sebuah pepatah. "seperti ayam mati dalam lumbung padi".

Kotoran ayam bagi petani di kawasan pegunungan Trenggalek Jawa Timur bisa dijadikan petanda. Yaitu ketika banyak ayam mengeluarkan kotoran encer hitam pekat seperti kopi dengan bau sangat menyengat dipercaya akan datang hujan atau mendekati musim hujan. Sehingga para petani akan lebih siaga menjaga jemuran hasil panennya.

Dirumah saya harga normal seekor ayam jantan dewasa sekitar 80 puluh ribu sampai 150 puluh ribu rupiah. Untuk ayam betina maksimal 80 puluh ribu rupiah. Harga ini masih bisa anjlok sampai 80% ketika di kampung sebelah sedang ada wabah flu burung. Dimana sampai saat ini para petani masih belum menemukan solusi menangkalnya. Jadi ketika ada ayam satu mati secara tiba-tiba bisa dipastikan dalam kurun waktu semiggu kedepannya diikuti ayam-ayam lain. Bila tidak beruntung bisa habis semua.
Kenyataan tersebut tidak membuat para petani putus asa. "Badai pasti berlalu". Begitulah kira-kira pemikiran yang ada. Sehingga setelah wabah flu burung hilang kembali membeli bibit ayam. Karena beternak ayam kampung sudah sama dengan investasi. Kadang untung kadang juga buntung.
Kembali lagi kepada cerita tentang pola hidup bebas ayam kampung. Kehidupan mereka yang bebas berdampak pada tekstur dagingnya. Lebih alot bila dibandingkan dengan ayam ras yang biasa dijual di pasar. Meski demikian ia tetap menjadi primadona bagi penikmat daging ayam. Sebab secara kualitas rasa 10 kali lipat lebih enak ayam kampung.

Bagi saya pribadi ketika melihat kehidupan ayam kampung menjadi terpikirkan sesuatu. Ayam kampung yang oleh para petani diberi kehidupan bebas sebebas-bebasnya tetap membatasi diri. Ayam-ayam ini ketika menjelang magrib akan tetap pulang ke kandangnya dan tidak memilih kandang ayam milik tetangga meski seharian bermain bersama. Padahal mereka terkadang tidak dari kecil hidup disitu seperti dibeli dari tuan lama saat sudah besar. Nyatanya mereka sama-sama setia dan kembali pulang kepada tuannya. Lantas bagaiamana dengan manusia dan pemiliknya?

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar