Catatan Singkat Dari Tulungagung

By iskak - Desember 08, 2019

Keponakan saya menunjukkan sawah pembeliannya


Bersamaan dengan resign kantor pada tanggal 30 November 2019 lalu saya langsung melakukan perjalanan menuju Tulungagung. Perjalana saya waktu itu berkaitan dengan kepulangan keponakan dari Hongkong. Ia telah bekerja selama sekitar 4 tahun menjadi TKI. Hari ia ia meminta agar saya datang ke rumahnya untuk bertemu. Lebih tepatnya silaturahmi melepas kerinduan setelah sekian lama tak berjumpa. 


Lima jam lebih perjalanan saya tempuh dengan naik bus PO Harapan Jaya. Bus melaju dari terminal Purabaya pukul 16:40 WIB baru sampai di terminal Gayatri Tulungagung hampir pukul 11 malam. Kesan selama perjalanan seperti biasanya. Jauh dari kata nyaman. Apalagi hari itu akhir pekan. Jumlah penumpang menjadi lebih banyak. Selama perjalan saya tidak kebagian tempat duduk. Berdiri sampai Mojokerjo. cukup melelahkan. 

Singkat cerita begitu sampai saya dijemput langsung ke terminal Gayatri oleh keponakan dan suaminya. Malam itu tidak banyak percakapan kami lakukan. Mungkin karena suananya sudah cukup melelahkan. Yang terjadi sebatas berbasa-basi ala kadarnya. Baru keesokan harinya tanggal 1 Desember 2019 saya bekesempatan mendengarkan cerita lebih banyak mereka. 

Beberapa tahun lalu keluarga ini memutuskan untuk menginvestasikan uangnya dengan cara membeli mobil truk. Mobil tersebut dijalankan oleh temannya. Intinya antara sopir dan pemilik (keponakan saya) melakukan perjanjian kerja sama bagi hasil. Sopir setiap hari melaporkan kegiatan order, kemudian hasilnya akan dibagi menjadi 3 dengan sistem setoran perbulan. Pembagian dimaksud adalah antara sopir, pemilik, dan kebutuhan operasional. 

Di awal-awal bisnis mereka terlihat cukup menjanjikan. Bahkan sempat mobilnya ditukar tambah dengan keluaran lebih baru. Tentu dengan harapan minimalisir perawatan dan meningkatkan kinerja. Sekitar enam bulan berselang, muncul masalah-masalah tak terduga. Mulai dari aki mobil dicuri orang, sopir yang tidak lagi terbuka, hingga proyek-proyek semakin sepi. Keadaan semakin tidak berpihak. Sementara pengeluaran untuk operasional dan perawatan terus mengalir tak terbendung. Karena berdasarkan perhitungan sudah tidak lagi mendatangkan keuntungan dilepaslah usaha tersebut. 

Modal usaha dialihkan untuk investasi tanah. Keponakan saya membeli 2 petak sawah dan tanah kering di gunung. Sampai saat ini model usahanya di bidang pertanian terbilang menguntungkan. Karena pada dasarnya ia memang menguasai betul bagaimana proses pengolahan lahan, pemilihan komoditas, hingga pemasaran. 

Secara kecil-kecillan keponakan saya juga beternak kelinci. Awalnya cuma sebagai hadiah untuk anaknya. Tetapi tanpa diduga berkembang cepat. Kelinci sepasang yang dibeli akhir Juli 2019 saat ini sudah beranak pinak menjadi 12 ekor. Sekilas memang terlihat kecil dan sepele, tetapi kata dia secara hitung-hitungan apabila dibandingkan dengan bisnis lain ini paling cepat pertumbuhannya. Dari modal awal 100 ribu telah berkembang menjadi 600 ribuan apabila di hitung berdasarkan nilai jual saat ini. Tetapi kendala yang harus dihadapi keterbatasan tempat dan pakan ketika mulai masuk musim tanam. 

Sampai saya balik ke Surabaya tanggal 2 Desember 2019 masih terpikirkan tentang management bisnis paling menguntungkan. Semua memang harus diawali oleh analisis SWOT dan kesukaan hati. Itulah saran paling sering saya dengar. Dalam dunia bisnis apapun pasti akan mengalami pasang surut. Ketika dari awal sudah tidak ada kesukaan hati bisa dipastikan cepat bosan. Itulah mengapa penting apa yang kita sukai menjadi modal utama memilih jenis bisnis akan dijalankan. 

Bagi pengangguran seperti saya memikirkan usaha bisa dijalankan agar bisa mendapatkan pemasukan adalah sesuatu yang penting. Karena tuntutan untuk hidup mandiri sudah menjadi keharusan. Membesarkan hutang juga tak akan dipercaya ketika tidak ada jaminan pemasukan menjanjikan. Mungkin saudara satu dua kali bisa menolong. Tetapi tidak untuk selanjutnya. Karena pada dasarnya mereka juga ingin memiliki usaha atau memiliki kepentingan sendiri dari hasil jerih payahnya. 

Untuk diri saya sendiri masih berharap kepada Tuhan. Apalagi semuanya secara tiba-tiba terkadang menjadi terlihat sulit. Seolah tidak ada jalan merintis usaha. Ditengah kebuntuan tersebut saya kadang ingat apa yang keponakan saya katakan ketika usaha Truknya merugi. ”Kita ini sebagai manusia anggap saja seperti wayang. Tidak akan tahu esok berakhir seperti apa dan bagaiama. Satu-satunya tugas harus dijalani ialah bekerja melangkah atas dasar apa yang kita yakini.” 

Surabaya, 07 Desember 2019 

Iskak

  • Share:

You Might Also Like

1 komentar

  1. ayo segera bergabung dengan saya di D3W4PK
    hanya dengan minimal deposit 10.000 kalian bisa menangkan uang jutaan rupiah
    ditunggu apa lagi ayo segera bergabung, dan di coba keberuntungannya
    untuk info lebih jelas silahkan di add Whatshapp : +8558778142
    terimakasih ya waktunya ^.^

    BalasHapus