![]() |
| Petani di Gunung Tumpak Trebis Trenggalek membuka lahan di ujung musim kemarau 2019 |
Enam hari sudah saya menganggur. Rasanya banyak waktu telah terbuang sia-sia. Tidur dan menonton film telah merenggut sebagian besar waktuku. Kalau dibilang enak, memang terasa sangat nyaman bersantai setiap hari. Hanya saja beberapa persoalan terus mengintai dibalik tirai hati untuk diselesaikan. Mereka ialah kecemasan, kekhawatiran, dan sedikit penyesalan masa lalu.
Pelarian beberapa hari ini kemudian membuat saya berfikir. Pertama, dalam menjalani hidup kita seperti lebih banyak mendapat tuntutan keberhasilan dan kesetaraan kelas.
Seolah seberapa banyak uang dan prestasi diraih tidak akan cukup menutup fakta bahwa di ruang hidupnya terlalu banyak ceruk-ceruk kegagalan. Setidaknya jika tidak boleh disebut sebagai kegagalan termanifestasi sebagai mimpi-mimpi kosong tak tergapai.
Seolah seberapa banyak uang dan prestasi diraih tidak akan cukup menutup fakta bahwa di ruang hidupnya terlalu banyak ceruk-ceruk kegagalan. Setidaknya jika tidak boleh disebut sebagai kegagalan termanifestasi sebagai mimpi-mimpi kosong tak tergapai.
Persaingan untuk sekadar hidup layak sesuai standart manusia dari tahun ke tahun terus berubah. Pertambahan usia juga menuntut sesuatu yang lebih dan lebih. Begitulah kiranya setiap dari kita diminta terus bekerja lebih keras dengan mengaburkan bekal batas kecukupan kebutuhan paling primer manusia.
Harus menjadi lebih kaya dibanding manusia lain. Itulah target terbaik semua dari kita untuk diraih. Karena dengan kaya sebodoh apapun seseorang seperti kata Jack Ma setiap langkah diambil dianggap berharga.
Pertanyaanya kemudian bagaimana mungkin sistem ini tidak mendorong pada keserakahan ketika uang hampir bisa berhasil membeli apapun?
Orang kecil seperti saya akan berfikir mencari uang, ditabung dan mencoba bisa terus survive bersama budaya sekitar. Syukur-syukur bisa menjalani kehidupan lebih baik pada periode mendatang. Begitupun mereka yang saat ini berstatus kaya raya. Walau misalkan tanpa bekerja satu bulan hidupnya terjamin tanpa kelamparan. Dorongan untuk terus menjadi lebih kaya dan lebih kaya lagi akan semakin menggila. Maka sangat lumrah ketika para orang kaya ini kemudian juga melebarkan sayapnya pada ranah politik demi meraih ceruk pundi-pundi kekayaan lebih banyak.
Kedua, apa sebenarnya yang akan bisa menjadi tumpuan orang kecil? Jawaban saya untuk sampai saat ini belum beralih. Adalah ilmu pengetahuan. Bagi orang kecil seperti saya sangat besar kemungkinan terkena apa yang namanya kemiskinan degeneratif . Gordon menyebut ada delapan dimensi kesejahteraan anak harus dipenuhi agar dewasa kelak tidak jatuh kepada jurang kemiskinan. Pangan, air bersih, sanitasi, kesehatan, perumahan, pendidikan, dan akses terhadap informasi layanan publik.
Masuknya hak memperoleh ilmu pengetahuan kepada semua manusia diharapkan menjadi penambah ketetampilan. Karena bagaimanapun manusia adalah sumber daya terbesar penentu kesejahteraan atau kehancuran suatu bangsa.
Sayangnya kecenderungan dari kita lebih banyak memblok akses kesempatan seseorang dengan lebih banyak memilih menyalahkan daripada membukakan kesempatan.
Kondisi ini dimulai dari perilaku demotivasi, atau sikap memandang sinis terhadap perubahan. Meski hal tersebut benar tetapi tidak serta merta dapat disetujui begitu saja. Kita seharusnya memandang lebih jauh. Seperti bagaimana besarnya revolusi teknologi dan ilmu pengetahuan saat ini justru berada diatas pondasi-pondasi jutaan revisi kekeliruan.
Ketiga, sepertinya kita juga harus berani jujur terhadap diri sendiri. Utamanya terhadap pentanyaan-pertanyaan pemancing menaikkan ego diri seperti diucapkan motivator dengan suara keras. ”Siapa kita?” Ya, cermin tak akan bohong. Upaya membelah menjadi kepingan kecil tak mengubah refleksi apa yang nampak.
Intinya saya dan mungkin banyak orang lain lebih suka berselimut pada alasan-alasan atas berbagai kegagalan. Menjadi pecundang atas tragedi hidup. Sambil berharap bisa lebih banyak menengadah pundi-pundi dari sisa remah-remah orang lain.
Saya jadi teringat apa yang ditulis Pandji Pragiwaksono dalam bukunya Juru Bicara. Ditengah kompetisi tiada akhir ini pilihan menjadi pemenang hanya bisa diraih lewat dua jalan. Menjadi lebih baik dari yang lain atau menjadi sedikit beda dari yang lain. Karena pada dasarnya pasar akan memilih sesuatu yang terbaik atau selalu melirik keunikan. Diatas itu semua, seyogyanya esensi hidup agar bisa memberi kehidupan dan penghidupan kepada sesama tak boleh terlupakan. Karena sekaya apapun kita ketika mati menjadi bahan tawa orang lain itulah seburuk-buruknya manusia.
Surabaya, 06 Desember 2019
Iskak

0 komentar