Tentang Ladang Pekerjaan

By iskak - Desember 07, 2019

Pelamar Kerja di PT AEON Credit Service Indonesia
Bekerja pada sektor formal masih menjadi dambaan banyak orang.Baik dengan mengabdi pada pemerintah menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN), atau bekerja pada pihak swasta. Lapangan kerja sektor formal banyak diminati karena standar pengupahan lebih baik dan adanya jaminan pemenuhan ‘kesejahteraan’ hak-hak pekerja. Bahasa awamnya akan memiliki penghasilan terukur dan pasti dari setiap bulan. keuntungan lain lebih mudah mendapat berbagai layanan produk perbankan dibanding pekerja informal. 

Sekitar dua tahun bekerja di perusahaan pembiayaan konsumen milik orang Jepang ekspektasi terhadap pekerjaan formal perlahan saya berubah. Ada beberapa faktor terus menghantui atau dari status karyawan. Pertama sekeras apapun kamu bekerja tidak akan menutup kemungkinan akan dipecat sewaktu-waktu. Orientasi perusahaan ialah profit. Ketika seseorang dianggap memperlambat laju pertumbungan keuntungan pasti akan disingkirkan. Dari sisi politik, bisa juga seseorang dikeluarkan dari perusahaan karena memiliki pandangan bertolak belakang dengan pimpinan. 


Kedua, perusahaan akan terus menerus mencari sistem seefisien mungkin. Dalam praktiknya ini berkaitan dengan memaksimalkan sebanyak mungkin potensi sumber daya pekerja agar menemukan pelayanan terbaik. Kehausan akan energi pekerja muda selalu dibutuhkan dalam menyegarkan rantai sistem produksi perusahaan. Orang-orang lama perlahan tapi pasti akan disingkirkan atas alasan susah beradaptasi dengan hal-hal baru. 

Efisiensi juga terkait erat dengan revolusi digital. Dimana semua rantai sistem sebisa mungkin diotomatisasi mesin. Perhitungannya meski secara harga menggunakan robot atau manusia memerlukan biaya seimbang, manusia memiliki banyak kelemahan. Seperti terkait urusan kedisiplinan, biaya asuransi, potensi pemogokan, ketidakjujuran, dan perilaku koruptif. Bandingkan dengan robot. Sekali program bekerja akan terus jalan sampai diberhentikan tanpa memperhitungkan alasan kemanusiaan. 

Tak usah menolak dengan alasan ketidakadilan. Sekali lagi semua dilakukan karena ingin meraup untung sebesar-besarnya. Bukankah sifat masing-masing karyawan kepada perusahaan juga demikian. Ingin mendapat upah semaksimal mungkin. Setiap tahun UMK terus minta dinaikkan setinggi mungkin. Jika ada yang terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) menuntut pembayaran ganti rugi sebesar-besarnya.Harusnya sesekali kita juga perlu berfikir adil terhadap kemampuan financial perusahaan serta kontribusi kinerja sebagai karyawan selama ini. 

Ketiga, apapun yang diproduksi massal dalam skala industri besar sudah barang tentu menegakkan keserakahan. Keuntungan akan terus terkonsentrasi mengalir kepada orang-orang tertentu dalam hal ini pemilik modal. Kelompok-kelompok ini kemudian oleh perbankan mendapatkan privilege kredit jumlah besar. Tentu siapapun yang mendapat asupan dana segar tidak mungkin hanya mau berdiri diatas satu kaki. Hasil kredit dari bank akan dimanfaatkan membangun industri lain. Begitulah seterusnya. 

Apabila orientasi kita condong kepada sistem kapitalisme tumbuh pesatnya berbagai industri besar merupakan pertanda baik. Serapan tenaga kerja tinggi, ekonomi naik, daya beli masyarakat positif, dan pemasukan pajak negara besar. Sekilas seperti angin segar. Tetapi coba kita tengok menggunakan sudut pandang sosialisme. Hal ini perlu kita lakukan mengingat didunia ini tidak ada satupun azaz berdiri tunggal tanpa perlawanan. Apakah dengan menggiring orientasi manusia bekerja pada perusahaan sejalan dengan menegakkan kemandirian ekonomi rakyat? Bukankah ketika terjadi krisis, penyelamat ekonomi negara datang dari UMKM rakyat? Adilkah proses pembagian hak ruang publik ketika banyak tanah dikooptasi untuk tujuan industrialisasi? Bagaimana dengan gelontoran limbah dihasilkan yang harus ditanggung rakyat? Apakah ada jaminan perusahaan akan menanggung biaya seluruh kerusakan lingkungan terdampak? 

Saya tentu belum mampu menjawab ini semua. Kapasitas saya sebagai umat Islam apapun itu harus diniatkan ibadah. Sebesar apapun dunia akan tetap fana. Apapun yang kita lalukan harus bermuara pada kebaikan. Bekerja dan menjadi pekerja pada sektor formal memang tidak mudah ditengah ketatnya kualifikasi serta banyakknya kopetitor. Hanya saja bukankah sebaiknya ketika kita mampu membangun usaha sendiri lebih mulia? 

Negara ini butuh lebih banyak enterpreanur agar ekonomi kerakyatan kuat. Uang tidak terus mengalir kepada pemodal besar. Dengan kata lain mari kita berusaha mewujudkan cita-cita besar menjadi tuan dinegeri sendiri. 

Surabaya, 06 Desember 2019 

Iskak

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar