![]() |
| Pohon Pinus di Gunung Tumpak Trebis Trenggalek |
Setiap kehidupan akan membawa kisahnya tersendiri. Tetapi tidak banyak dari kisah-kisah tersebut diceritakan kembali. Banyak alasan mengapa bisa demikian. Baik karena keterbatasan saluran media, atau memang menganggap kualitas kisah terlalu standar umum. Bisa juga ketiadaan heroisme, alur berliku, menandai sejarah, atau mengandung tuntunan moral.
Apabila tetap diceritakan kisah-kisah demikian harus ditambal dengan berbagai gimik.
Bagi saya kisah demikianlah sebenarnya yang dialami mayoritas manusia. Lebih banyak menjadi pecundang
dibanding kepahlawanan, sering menerima kekalahan dibanding kemenangan, mudah terperosok ke jalan amoral dibanding jalan moralitas.
Jangan-jangan inilah jati diri kita. Penuh jalan ketidakpastian terombang abing oleh gelombang jaman bersama keriuahan cerita-cerita ketidakadilan. Homo homini lupus, manusia adalah serigala bagi sesama, tega memakan sesama.
Begitu tragis. kenyataan ini pula yang mengantarkan sebagaian manusia ingin menjadi tuhan diatas manusia lain. Semua dibangun melalui narasi besar. cerita-cerita kehebatan para raksasa, aneka keajaiban, sifat keaguangan, curahan kebaikan yang disebarluaskan terus menerus. Kalau perlu dibuatkan isntitusi resmi agar apa yang telah tertabur bisa dipantau keberlangsungannya ditengah masyarakat.
Jadi jangan heran, kalau banyak pilihan irrasional diambil untuk membenarkan berbagai keputusan menyangkut hajat hidup orang banyak. Moralitas bukan lagi menegakkan nilai-nilai humanisme melainkan menjaga sedemikian rupa agar pengaruh, nilai, atau keuntungan kekuasaan saat ini tidak sampai berkurang.
Selama ini cerita yang datang dari kelompok paria diarahkan kepada tiga hal. Pertama tentang pelajaran moral, kedua sebagai peringatan, dan penghibur sementara. Disinilah mengapa narasi kebesaran hidup orang biasa dianggap monoton. Hidup seperti sekadar menanti kematian. Cukup melewati siklus lahir-sekolah-kerja-menikah- beranak-mati lalu semua dianggap selesai. Bagi saya pribadi itu juga bagian dari patokan pencapaian. Walau dalam tataran paling standar laku manusia sebagai makhluk biologi.
Jika menempatkan diri sebagai makhluk sosial setiap dari kita haruslah memiliki kontribusi perbaikan kehidupan bagi sesama.
Lahirnya institusi agama, negara, dan bebagai organisasi lain sebenarnya bagian dari bukti. Jauh didalam lubuk hati masing-masing dari kita ingin mengakhiri segala bentuk perilaku binatangisme. Tetapi entah kenapa faktanya penghisapan terus saja terjadi dengan berbagai model.
Belajar dari konflik demi konflik seperti sedang memutar narasi kearah paripurna dunia. Kiamat dan cerita-cerita kematian besar akan selalu menjadi lebih dekat dengan orang kecil. Ini bisa dilihat dari perbandingan porsi akses pangan, keamanan, kesehatan, dan kepemilikan ruang antara kelompok oligarki dan publik. Ditambah garansi kerekatan sosial kita hari ini terlalu rapuh. Bisa duduk sejajar bersama dan memandang sederajat sebagai sesama manusia saja sudah dianggap pencapaian luar biasa.
Suatu saat akan terjadi populasi orang miskin dianggap wabah yang mengotori pemandangan. Jangan heran kalau tidakan penggusuran, ambil alih lahan, dan alasan lain akhir-akhir kian menjadi berita biasa. Aparat pemerintah melakukannya tanpa rasa malu. Dalam konteks agama contoh kejadian paling dekat adalah apa yang terjadi antara Israel dan Palestina.
Terlepas dari semua ini kita harus yakin. Esok akan selalu membawa matahari baru terbit. Harapan itu masih ada bagi siapapun. Seperti penantian kehadiran Isa. Kerinduan kita akan Muhammad. Dan Tentunya perjuampaan denganNya. Kuncinya kita tidak boleh menjadi manusia-manusia pelupa. Apa yang terjadi di masa lampau kita sama-sama jadikan pelajaran.
Perulangan akan selalu diciptakan oleh mereka yang berkuasa lewat berbagai narasi palsu. Perlawanan tidak boleh lepas dari genggaman. Itu adalah modal dan prasyarat dariNya untuk kita. Harga yang harus dibayar untuk melepaskan kerinduan sebagai manusia sejati.
Bukan untuk menjadi lebih baik dibanding manusia lain, tetapi kita perlu tahu arah dan posisi jalan roda kehidupan ini. Ddunia tidak pernah bergerak sendiri. Berbagai gelombang sengaja diciptakan agar riaknya tertelan oleh mereka yang termarjinalkan. Kuncinya tiada lain selain berdaulat atas diri sendiri. Meski berpotensi terkubur dalam tumpukan kekalahan, sudah jelas ada kehormatan tak ternilai sebagai seorang manusia.
Surabaya, 06 Desember 2019
Iskak

0 komentar