Mengenang kembali Munir Lewat Film

By iskak - Desember 13, 2019

Salah Satu Poster Nobar Film "Kiri Hijau Kanan Merah"

Judul film ini ”Kiri Hjau Kanan Merah”. Link filmnya bisa ditonton di link youtube ini. Bukan film baru, tetapi reproduksi film lama tahun 2009 dari sebelumnya bentuk kaset menjadi digital. Masih dalam keterangan dari Watchdoc film ini dirilis di situs youtube hari ini 9 Desember 2019 dalam rangka memperingati hari HAM international 10 Desember 2019. Lebih spesifik ditujukan untuk mengenang almarhum pejuang kemanusian bernama Munir yang kasusnya sudah mandek 15 tahun tidak menemuai titik terang.

Sedikit spoiler, ini adalah film dokumentar. Penonton diajak menelurusi kembali jejak-jejak kehidupan Munir dari kecil hingga kematiannya.
Sepanjang 48 menit lebih 12 detik penonton dibuat sedekat mungkin dengan sosok Munir melalui kesaksian berbagai narasumber. Untuk saya pribadi ini berhasil. Secara pengetahuan saya tentang Munir awam tetapi familiar dengan namanya. Setelah menonton film ini menjadi paham siapa sebenarnya sosok Munir, dan kenapa setiap kamis dilakukan aksi kamisan? Bagi yang belum tahu Aksi Kamisan adalah aksi solidaritas memakai baju hitam di depan istana negara untuk menuntut penyelesaian pembunuhan Munir, dan kasus-kasus kemanusiaan lain. Aksi ini dimulai 18 Januari 2007 setiap hari kamis sekitar pukul 16-17 WIB. Total aksi digelar sampai tulisan ini diketik sekitar 600an kali.
Foto Munir

Selama ini terhadap kasus Munir banyak pendapat saya temui dari orang-orang dipemerintahan beliau terpaksa dibunuh karena akan membocorkan rahasia besar negara kepada asing. Setelah menonton film ini dan ulasan-ulasan lain alasan tersebut tak masuk akal. Munir jelas sangat nasionalis. Beliau bersungguh-sungguh dalam kerja mangadvokasi kemanusiaan. Terbukti tercatat paling getol memperjuangkan pasal kesejahteraan TNI dan Polri pada masanya. Padahal kita tahu, bagi orang-orang pekerja kemanusiaan sangat sering dihadapkan pada kedala institusi ini dilapangan.

Fakta ini juga membuktikan bahwa Munir tidak memandang apapun latar belakang seseorang untuk dibela. Apabila terjadi ketidakadilan akan dilawan. Musuh munir adalah ketidakadilan. Sementara ketidakadilan ini kerap dilakukan oleh institusi-institusi besar tak terkecuali pemerintah. Kita sebagai masyarakat yang berfikir sehat tentu akan bersamanya. Pemberian istilah penghianat negara jelas tanpa dasar. Kalau penguasa dalam hal ini ” pejabat pemerintah” terusik oleh manuver-manuver beliau memang benar. Sekali lagi bagi negara tidak.

Screenshoot dalam salah satu scene film Kiri Hijau Kanan Merah
Sebagai penjernihan negara dan pemerintah memang tidak dapat dipisahkan tapi tidaklah sama. Analogi sederhana negara seperti laptop, sedangkan pemerintah merupakan sistem operasi yang melakukan komputasi agar laptop bekerja sesuai fungsinya. Sistem operasi ada banyak jenisnya mulai Linux, Windows, Unix, Mac dan lain-lain. Pemerintahan juga demikian ada banyak jenisnya. Ada Demokrasi, Tirani, Oligarki, Teknokrasi, Timokrasi, Kleptokrasi, Oklokrasi, hingga Plutokrasi. Setiap negara bebas memilih menetapkan sistem yang cocok dengan kultur dan sejarah masyarakatnya.

Dengan dibunuhnya Munir tanpa dilakukan penyelesaian pengungkapan kasus secara terbuka kepada publik pemerintah akan sakit dua kali. Kasus-kasus yang diadvokasi Munir seperti penghilangan paksa 14 dari 24 aktivis belum ketemu sampai sekarang tak menjadi reda. noda bertambah kian banyak oleh darah Munir. Bersama berita kematian jasanya, meledaklah aroma busuk pemerintahan Indonesia ke muka dunia.

 Sekarang munir tidak lagi sebagai sosok manusia. Kematiannya telah menjadikan simbol abadi sebuah ketidakadilan. Bagi siapapun pemegang tampuk kekuasaan pemerintah, selama belum bisa membuka secara terang kasus-kasus pelanggaran HAM nama Munir akan tetap menjadi hantu. Ia akan terus hadir, bahwa pemerintah dalam sejarahnya bisa begitu lemah. Dapat dikalahkan oleh sosok manusia bernama Munir.

Negara suatu saat bisa dibajak oleh tangan-tangan kotor demi tujuan melanggengkan kekuasaan segelintir orang. Bertepatan momen dihari peringatan HAM Dunia ini, semoga kesadaran kita akan kemanusiaan semakin meningkat. Mendudukkan derajat manusia layaknya manusia. Bisa bersama-sama berfikir adil kepada sesama. Sebab kita bukan Anjing yang hanya setia kepada mereka yang memberi makan. Pemilik kita adalah Tuhan Allah swt. Biarkan hanya Dia yang berkuasa atas semua manusia di muka bumi.

Pengekangan, penindasan, kekerasan tak layak menjadi alasan mundur karena takut. Seperti kata Iwan Fals dalam wawancara film ”Kiri Hijau, Kanan Merah,” di menit ke 3.
 ”... Senjata, bom atau apa mubadzir itu. Wis lah, tidak usah diundang-undanglah kematian itu. Pasti datang. Mendingan dana itu pakai untuk yang lain.”

Scene Munir saat melakukan orasi


Surabaya, 09 Desember 2019

Iskak

  • Share:

You Might Also Like

1 komentar

  1. ayo segera bergabung dengan saya di D3W4PK
    hanya dengan minimal deposit 10.000 kalian bisa menangkan uang jutaan rupiah
    ditunggu apa lagi ayo segera bergabung, dan di coba keberuntungannya
    untuk info lebih jelas silahkan di add Whatshapp : +8558778142
    terimakasih ya waktunya ^.^

    BalasHapus