Resolusi di Hari Anti Korupsi

By iskak - Desember 14, 2019

Sebuah contoh kebodohan diri
"Selamat hari anti korupsi". Timeline twitter saya ramai oleh meme, poster, dan twit ucapan ini. Sekadar menggugah ingatan. Hari anti korupsi Dunia dicetuskan oleh PBB di Merdia Meksiko pada tahun 2003 atas terlaksananya konvensi anti korupsi pertama kali. Tujuanya mendorong negara-negara di Dunia melakukan perlawanan terhadap bentuk kejahatan luar biasa tersebut.

Bertepatan dengan hari anti korupsi 9 Desember 2019 ini saya ingin mengkorek kembali kasus korupsi dalam diri saya pribadi. Terutama terkait dengan penggunaan waktu produktif sehari-hari. Sehingga banyak muncul pertanyaan mengapa sampai sekarang belum bisa menyelesaikan Skripsi.
Padahal bila dihitung waktu dari tahun kemaren saya selalu berjanji menyelesaikan semester depan.

Hasil penyelidikan pertama saya temui ternyata pengaruh gadget. Penggunaan gadget telah mengkorupsi penggunaan waktu terbesar saya. Bagaimana tidak, sebelum tidur saya selalu memegang smartphone. Bangun dari tidur juga. Ketika bosan sedikit bermain smartphone. Belum lagi ketika ada notifikasi masuk tak kan kuasa menunda untuk berkata membuka nanti. Durasi totalnya jauh melampaui waktu saya gunakan untuk beribadah kepada pencipta saya.

Bukan saya tidak sadar dengan pola kebiasaan buruk ini. Tapi lagi-lagi rasanya seperti dibuat tidak berdaya oleh keadaan. Barangkali ini pulalah yang dirasakan oleh para pejabat ketika dihadapkan dengan berbagai suap atau tawaran skandal. Mengutip berita Riana A Ibrahim di Kompas edisi 9 Desember 2019 dengan judul ”Saya Tidak Mampu Melawan Sistem...” Remigo Yolando Betutu seorang bupati terdakwa kasus korupsi mengatakan ”sekuat-kuatnya saya berusaha, nyatanya saya tidak mampu melawan sistem dan berbagai kepentingan yang membahayakan diri saya. Saya harus mengaku salah dan kalah karena harus berkompromi sehingga menyebabkan proses hukum ini terjadi.” Meski demikian saya tetap berfikir tindakan korup ini walau menyenangkan diri tetap berstatus salah.

Mas Citra Dara Vresti Trisna pernah bertuah ”Meski kamu berbuat salah, jangan pernah sesekali memanipulasi hati kecil. Seperti meninggalkan kewajiban Shalat. Ketika itu terjadi kamu harus tetap berfikir bahwa sedang melakukan kesalahan”. Sebenarnya bila diuraikan lebih jauh perkataan mas Citra berkaitan dengan menghindari normalisasi perbuatan salah. Ketika suatu kegiatan dilakukan berulang-ulang, kemudian menjadi kebiasaan sudah pasti akan tercipta suatu kondisi apa yang disebut ”normal baru”.

Semua manusia pastilah ingin memenuhi kebutuhannya akan prestasi, afiliasi, dan kekuasaan. Ketika memiliki salah satu atau ketiganya kehormatan seseorang akan turut terangkat hadir bersamanya. Dari ketiga faktor tersebut apa yang saya alami terkait kebutuhan afiliasi.
Di Surabaya meski ramai oleh banyak orang, saya merasa terisolir dari hubungan pertemanan. Meski saya bisa berkomunikasi dengan siapapun, tetapi mencari orang mengerti apa yang kita bicarakan cukup sulit.

Sekali lagi di hari anti korupsi ini ingin membuat resolusi bagi diri sendiri.
  1. Saya ingin berhenti mencari alasan pembenar atas segala kebodohan diri.
  2. Saya ingin memanfaatkan waktu seberkualitas mungkin. 
  3. Saya ingin lebih bisa beribadah secara istiqomah. 
Semoga ketiga resolusi saya tercapai. Keinginan melawan segala ketakutan diri bisa tercapai. Sekali lagi saya ingin menjadi lebih baik mulai hari ini.

Sebagai catatan kecil, tujuan saya menuliskan ini dalam blog pribadi adalah bagian dari bentuk keseriusan. Jadi ketika suatu saat resolusi ini tidak bekerja dan gagal saya tahu. Ada bukti tertulis bahwa saya benar-benar seorang pengecut tak berguna. Sementara jikalau sebaliknya, saya akan berterimakasih kepada Tuhan. Bekat kasihNya saya masih diberi kesempatan memperbaiki segala kesalahan. Sekali lagi, semoga ini berhasil dan membawa kebaikan bagi semua.

Surabaya, 09 Desember 2019

Iskak

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar