Singkong, Nasibmu Kini

By iskak - Desember 14, 2019

Pegunungan di Trenggalek dengan komoditas tanaman Singkong

Merugi, kata itu selalu dikeluhkan oleh Bapak dan Ibu ketika saya di rumah. Tetapi bapak tidak sendiri. Ia bersama puluhan petani lain seperti tidak punya pilihan. Menanan padi ketika musim penghujan harus tetap dilakukan. Seperti sudah menjadi panggilan alam bagi petani pedesaan. Kata Bapak, ”Apa yang akan dimakan jika tidak menanam padi?” Padahal menurut hemat saya, makanan pokok tidak harus padi. Bisa mengembangkan umbi-umbian seperti dulu. Tetapi usulan-usulan saya lagi-lagi mendapat jawaban ”tidak.”

Dari sifat keukeuh bapak, saya mencoba merenungkan. Kira-kira mengapa menanam padi saat ini seperti harga mati. Mundur kepada ingatan masa kecil sekitar tahun 2000an orang-orang tidak sefanatik ini dengan padi.
Bapak masih rutin menanam Wilus, Katak, Suwek, Pohong, Uwi dan sebangsanya. Makan tiwul sudah menjadi menu utama sehari-hari. Celetuk ”Uncet (nasi dari beras) kui pas jaman biyen aku cilik digawe lawuh,” sering diucapkan oleh bapak, paman, atau budhe ketika momen makan bersama. Sampai sekarang saya tidak paham, apakah bapak bermaksud menceritakan kondisi kemiskinan atau sekadar sindiran agar kami mengambil tiwul lebih banyak daripada uncet.

Jujur, saya sendiri dulu ketika disuruh memilih antara uncet dan tiwul lebih memilih uncet. Tekstur tiwul seringkali keras. Susah dikunyah. Ketika kena kaldu lodeh menjadi super lengket atau ambyar. Belakangan ketika dewasa saya ketahui penyebab lengket atau ambyar adalah jenis ketela pohon, usia panen, dan lamanya masa simpan saat masih menjadi gebing (ketela yang sudah kering). Ketidaksukaan saya terhadap tiwul semakin menjadi-jadi saat di sekolah diajarkan bahwa sumber pangan ini dikonsumsi oleh masyarakat miskin atau terbelakang.

Mungkin awalnya bapak dan simbok mengakomodasi keluhan saya. Sebab tidak jarang saya mengulang doktrin dari sekolah tentang ketela pohon dan kemiskinan. Biasanya dengan menambah-nambahi contoh pembanding. Kurang lebih seperti berikut: ”Kenapa jika tiwul itu bagus orang hajatan tidak menggunakan tiwul? Kenapa ketika membuat ambengan untuk kenduri selalu menggunakan uncet? Kenapa pula orang-orang dikota kata mbak tidak tahu tiwul?”

Entah tepatnya mulai dari kapan, tetapi dari tahun ke tahun alokasi kebun kami untuk penanaman singkong semakin di kurangi. Tanah kering di gunung mulai di buat gogo (tanam padi tanpa air). Kabar terakhir bulan lalu saat telpon bapak mengatakan saat ini ia dan para petani lain sudah tidak ada yang memiliki bibit singkong. Ada yang jual tetapi harganya mahal.

Selama prosesnya apabila dibandingkan resiko kegagalan antara menanam padi di gunung dan singkong jauh berbeda. Padi memerlukan perawatan ekstra, serangan hama selalu mengancam. Pembersihan gulma tidak boleh telat. Belum lagi harus berebut dengan petani lain ketika pupuk datang. Sebab bukan rahasia lagi jika ketersediaan pupuk dari pemerintah kerap tidak ada, atau telat. Beda dengan singkong. Tanpa dirawatpun tetap akan panen.

Nasi sudah jadi bubur, begitulah kata pepatah. Tidak bisa menyalahkan salah satu pihak. Karena grand design politik beras mulanya dikampanyekan Orde Baru. Akhirnya sistem sosial di masyarakat perlahan tapi pasti juga turut berubah. Beras telah menjadi standart baru di pedesaan. Seperti berzakat fitrah wajib menggunakan beras. Menyumbang kematian atau hajatan menggunakan beras. Menjamu tamu dianggap tidak lagi pantas kalau bukan beras.

Kini roda jaman berputar 180 derajat. Tiwul tiba-tiba menjadi barang langka. Harganya melambung melampaui beras. Mereka yang bisa menyajikan tiwul di meja makan setiap hari hampir pasti keluarga dengan ekonomi kecukupan keatas. Orang-orang miskin menikmati beras impor kadaluarsa bantuan dari pemerintah. Tiwul sebagai sumber pangan tinggi karbohidrat rendah gula yang sudah tentu lebih sehat naik kelas.

Dari semua kejadian ini seharusnya orang-orang desa belajar bahwa apa yang menjadi pandangan umum tak selamanya benar. Nenek moyang kita telah mewariskan sebuah kearifan lokal walau tanpa diiringi penjelasan ilmiah. Sudah sepatutnya kita lestarikan, terutama menyangkut ketahanan pangan tanpa ketergantungan subsidi beras pemerintah. Caranya tentu dengan perlahan-lahan. Minimal bersama-sama kita menggali dan mengembangkan keunggulan-keunggulan pangan lokal. Agar kalau sewaktu-waktu terjadi krisis dan pemerintah gagal menjaga stabilitas ekonomi orang-orang desa punya jaminan tabungan pangan berbiaya murah menyehatkan.

Pulang Berkebung


Surabaya, 09 Desember 2019

Iskak

  • Share:

You Might Also Like

3 komentar

  1. ayo segera bergabung dengan saya di D3W4PK
    hanya dengan minimal deposit 10.000 kalian bisa menangkan uang jutaan rupiah
    ditunggu apa lagi ayo segera bergabung, dan di coba keberuntungannya
    untuk info lebih jelas silahkan di add Whatshapp : +8558778142
    terimakasih ya waktunya ^.^

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  3. Permisi ya kak Admin ^^

    ItuKasino - Agen Judi Bola - Slot - Judi Poker - IDNLive - Sicbo - Baccarat - LiveCasino

    Minimal Deposit & Withdraw Rp. 25.000,- / Rp.50.000,-

    - Bonus Cashback Sportsbook 5% setiap Senin
    - Bonus Rollingan Live Casino 1% setiap Senin
    - Bonus Rollingan IDN Live 1% Setiap Senin
    - Bonus Cashback Slot Games 5% Setiap Senin
    - Bonus Referral 1-5% setiap selasa
    - Bonus Cashback Poker 0.3% setiap Kamis

    Kontak Kami :
    WhatsApp : +85593790515

    Pusat Bantuan ituKasino :
    • https://linktr.ee/itukasino

    Link Alternatif ituKasino :
    • http://bit.ly/tricksjoker

    Menerima Deposit Via Pulsa & E-Money
    • Telkomsel , XL axiata
    • Ovo , Gopay

    Agen Taruhan Judi Teraman, Situs Taruhan Judi Teraman, Agen Judi Bola, Agen Judi Bola Online, Agen Bola Online, Agen Sportsbook, Judi Casino, Agen Judi Casino, Agen Casino Online, Agen Live Casino Terpercaya, Agen Judi Poker, Judi Poker, Agen Poker Online, Agen Judi Domino, Agen Domino Online, Agen Bandar Domino, Agen Bandar QQ, Agen Bandar Poker, Agen Bandar Ceme,

    BalasHapus