Sedikit Pandangan Terorisme dan Islam

By iskak - Desember 08, 2019

Api Unggun


Banyaknya rentetan kejadian terorisme telah menjadi momok semua orang. Bom meletus di kantor kepolisian, masjid, hotel, dan tempat-tempat umum lain dari tahun ke tahun seperti tak pernah habis. Para pakar di depan media selalu menyebut pelaku telah perpapar pahan radikal. Lebih mengerucut lagi tuduhan radikal tersebut dialamatkan kepada kelompok umat Islam radikal. Konon labeling ini didapat berdasarkan penelusuran serius. Baik oleh badan intelegen negara dan peneliti independent memberi jawaban senada.

Adanya klaim pengakuan dari kelompok Isis yang mengaku bertanggungjawab atas kejadian teror pada suatu wilayah dianggap sebagai konfirmasi valid. Kebutuhan jawaban atas pertanyaan masyarakat dan media terjawab sudah. Tetapi apakah sebagai umat Islam kita akan mengamini begitu saja? Sebaiknya tunggu dulu.



Nama besar Islam selama ini menjadi pihak paling dirugikan. selalu dan selalu jadi kambing hitam setiap terjadi tindakan terror. Dampaknya berimplikasi kepada pesebaran Islamofobia. Sedikiti cerita hampir setiap hari saya melewati jalan di depan geraja besar di daerah Surabaya. Jika hari-hari biasa penjagaan dilakukan oleh satpam 24 jam. Seperti layaknya hotel atau tempat-tempat strategis lain. Sewaktu hari besar umat kristiani penjagaan menjadi lebih ketat lagi. Dipastikan akan ada polisi menjaga. 
Dilain hari saya bermaksud untuk melewati jalan parkiran milik sebuah gereja sebelah kantor. Lebih tepatnya ingin melakukan pemasangan outdoor AC dibelakang gedung. Penjaga gereja tidak menginjinkan lewat. Harus ada surat resmi dari pengurus. Sayapun menelpon pihak pengurus. Oleh pengurus di lempar ke bagian management lain. Begitu seterusnya sampai akhirnya gagal mendapat surat ijin. 

Saya kira gereja bukan lagi sebagai tempat publik. Rumah ibadah ini telah menjadi tempat privat meski itu bukan area doa. Mungkin ketakutan semacam ini pula yang memicu penolakan pendirian tempat ibadah di beberapa tempat. Bahwa masyarakat seperti tidak ingin ambil resiko.
 
Dari kedua kejadian ini saya berkesimpulan. Bahwa apa yang mereka alami tak lepas dari setidaknya dua hal. Pertama trauma akan sejarah keamanan masa lalu. Kedua institusi gereja dijalankan secara ekslusif tertutup layaknya perusahaan profesional. Suka tidak suka stigma terhadap umat Islam terutama yang berpenampilan jenggot panjang, jidat hitam, dan celana cingkrang sebagai teroris ada. Kalau tidak percaya, silahkan berpenampilan seperti saya sebut diatas sambil membawa tas agak besar kemudian menaiki motor sangat pelan  sewaktu bubaran acara gereja. 

Melihat ironi demikian sebagai umat Islam kita wajib bersama-sama bergandeng tangan melawan. Terorisme harus kita tolak sebagai produk agama. Meski tipis perbedaan kegiatan terorisme dan Jihad seperti dalam fatwa MUI nomer 3 tahun 2004 sebenarnya cukup jelas. 
Jihad hanya boleh dilakukan ketika keadaan perang dan untuk kepentingan lebih besar. Berikut kutipannya: 

‘Amaliyah al-Istisyad (tindakan mencari kesyahidan) diperbolehkan karena merupakan bagian dari jihad bin-nafsi yang dilakukan di daerah perang (dar al-harb) atau dalam keadaan perang dengan tujuan untuk menimbukan rasa takut (irhab) dan kerugian yang lebih besar dipihak musuh Islam, termasuk melakukan tindakan yang dapat mengakibatkan terbunuhnya diri sendiri.” 

Saat ini negara kita tidak dalam status perang. Walau cerita tentang ketidakadilan datang silih berganti. Tetapi tidak sampai mengancam nyawa ataupun perkembangan syiar Islam sebagai agama. Pemimpin-pemimpin kita masih banyak yang Islam. Para  ulama pendapatnya masih didengar oleh kekuasaan. Kalaupun ada kelompok belum puas terhadap keputusan pemerintah saluran politik terbuka lebar lewak pembetukan partai. Sehingga ketika berhasil meraup suara mayoritas dapat dipastikan meraih kursi kekuasaan juga. Iklim demokrasi kita meski menurun masih membuka peluang kepada siapapun berkuasa dengan kesempatan setara. 

Kembali lagi kepada alasan kenapa tindakan terorisme tidak boleh lagi diidentikan kepada agama tertentu. Agama bisa dianut seseorang bukanlah cuma-cuma tanpa syarat. Ketika syarat-syarat tersebut dilanggar sudah pasti ada hukuman wajib diterima. Untuk tindakan terorisme semua sudah final sepakat. Terlepas apa yang dilakukan semasa hidup, akan dibatalkan status keagamaannya. Ibarat kata seseorang akan di pecat oleh perusahaan ketika melakukan perusakan/ kerugian secara sengaja. 

Hal ini sangat realistis. Apabila kita tetap besikukuh bahwa teroris itu punya agama yaitu Islam seperti pernyataan Abu Janda maka akan membawa konsekuensi lanjutan. Jasadnya ketika mati wajib kita shalatkah, kirim doa, dan dikebumikan secara Islam. Akhirnya apa yang diupayakan oleh negara, bersama ormas, serta ulama dalam gerakan melawan terorisme menjadi semacam kemunafikan. 

Membiarkan Jasad teroris diperlakukan layaknya mengubur binatang tanpa ritual apapun sudah tepat. Sekali lagi karena ia semasa hidup telah menghancurkan apa yang kita sebut sebagai nama baik syiar agama. 

Surabaya, 07 Desember 2019 

Iskak

  • Share:

You Might Also Like

1 komentar

  1. ayo segera bergabung dengan saya di D3W4PK
    hanya dengan minimal deposit 10.000 kalian bisa menangkan uang jutaan rupiah
    ditunggu apa lagi ayo segera bergabung, dan di coba keberuntungannya
    untuk info lebih jelas silahkan di add Whatshapp : +8558778142
    terimakasih ya waktunya ^.^

    BalasHapus