Sepenggal Tentang Revolusi Industri

By iskak - Desember 14, 2019

Senja di jalanan Surabaya

Manusia internet. Barangkali itulah sebutan untuk manusia saat ini. Melalui interkonektifitas semua bisa terbantu. Komunikasi, perdagangan, ilmu pengetahuan, perbankan, hingga permainan tersedia dengan mudah dan murah. Selama anda terhubung dengan jaringan semua bisa diakses diamanapun. Tentu piranti digunakan melalui gadget.

Dulu orang-orang generasi ayah saya kecakapan seseorang paling utama dinilai dari kemampuan menghafal. Para penghafal ini berstatus setingkat perpustakaan berjalan. Ia akan dicari orang untuk ditanya seperti persoalan pertanian yang dikaitkan dengan ilmu perbintangan atau pemilihan waktu menebang kayu
agar tidak dimakan hama pengerat. Perlahan-lahan semakin kesini ilmu tersebut mulai ada ketidaksesuaian. Pola siklus alam telah berubah. Efek pemanasan global membuat musim hujan datang terlambat berbulan-bulan dari perkiraan. Ketersediaan air tanah seiring meningginya populasi penduduk mulai berkurang. Populasi hama meningkat dari tahun sebelumnya.

Perubahan jaman. Sekarang kecakapan seseorang dinilai dari kemampuan mengoperasionalkan perangkat pintar. Intinya alat hadir sebagai media, jadi ia akan bekerja ketika ada perintah. Kecerdasan operator akan menentukan kemampuan maksimal fungsi perangkat.

Kenyataan ini membuat sebagian generasi lama tidak dapat dipungkiri masih terjebak dengan apa yang namanya gagap terhadap teknologi. Berdasarkan pengamatan sekilas saya generasi lama relatif malas melakukan eksplorasi dan tidak paham perintah aplikasi. Salah satunya terjadi kepada kakak kandung perempuan saya. Ketika mengoperasionalkan sebuah aplikasi ia lebih banyak menghafal daripada membaca dengan detail perintah aplikasi. Jalan pintas kala menemui kesulitan seringkali menelpon dan menceritakan kendala dialami bersama kondisi tampilan aplikasi dimaksud kepada saya atau anaknya.

Orang-orang menyebut apa yang terjadi saat ini merupakan revolusi industri 4.0. Angka 4.0 hanya istilah penamaan disepakati bersama tentang periode tahapan pencapaian peradaban bisa diaraih oleh manusia. Ini berkaitan dengan apa yang dikemukakan oleh Herbert Spencer tentang evolusi sosial. Dimana masyarakat akan terus bergerak dari kesederhanaan menuju tingkat yang lebih rumit, dan semakin rumit. Asumsinya seperti Theory Charles Darwin yang memandang manusia berasal dari kera.

Kembali kepada tahapan revolusi peradaban manusia. Secara singkat tahapan pertama dimulai dari penciptaan keyakinan bersama. Pada fase ini manusia menemukan bahasa yang kemudian digunakan untuk berkelompok dan menemukan keyakinan. Mulai dari menyembah dewa-dewa hingga jaman nabi-nabi.

Tahapan kedua, ditandai dengan penciptaan mata uang. Lewat mata uang berbagai persoalan barter, tabungan akan kekayaan, dan nilai tukar bisa diatasi dengan mudah. Sedikit fakta unik bahwa pada awalnya untuk menarik orang-orang menukarkan hasil pertanian mereka dengan uang dibuatlah peraturan oleh kuil. Sekali seumur hidup semua perempuan wajib mengabdikan diri di kuil cinta. Dinamakan kuil cinta karena siapapun boleh membeli dengan koin jika ingin berhubungan seks dengan stok perempuan dalam kuil. Itulah mengapa ada sebutan bisnis tertua di dunia adalah prostitusi. 

Tahapan ketiga, dikenal dengan revolusi industri. Dimana ketika mesin uap mulai ditemukan banyak peralihan ke teknologi. Ini kemudian terus berlangsung semakin meluas memekanisasi pada hampir semua bidang. Produksi massal dapat dicapai dengan waktu singkat. Negara-negara menjadi besar bukan lagi didorong dari hasil pertanian melainkan kemampuan menciptakan produk-produk industri.

Tahapan keempat, apa yang kita alami saat ini. Era jaringan. Pola-pola lama kerja dunia berubah dengan penemuan kecepatan internet super cepat. Orang bisa mendatangkan barang dari belahan dunia lain tanpa perlu beranjak dari tempat tidur. Sebagian pakar menyebut ini sebagai peluang bagi semua. Karena dengan revolusi industri 4.0 semacam terjadi pengocokan ulang. Tetapi disisi lain menyisakan pertanyaan-pertanyaan belum bisa terjawab. Diantaranya apakah hadirnya revolusi industri 4.0 sudah berjalan linear bagi semua pihak?

Kita tahu masalah krisis dan kelaparan masih terjadi di berbagai belahan dunia baik karena perebutan kekuasaan politik maupaun latar belakang agama. Khusus di Indonesia ketersediaan internet belum merata. Tarif provider milik pemerintah yang menjangkau hampir semua wilayah sangat mahal. Kasus-kasus pemutusan akses internet ketika kekuasaan terancam oleh isu kelompok pro aktivism sering diberlakukan. Lihat saja kasus pemutusan jaringan ketika terjadi demonstrasi menjelang pemilu kemaren atau konflik di Papua. Ini artinya kekuasaan belum sepenuhnya siap menghadapi kenyataan keterbukaan informasi publik ditengah genjarnya kampanye revolusi industri 4.0.

Dari sisi perekonomian dunia juga terus menunjukkan perlambatan. Padahal seharusnya ketika datang seuatu perubahan berjalan seiring dengan kesejahteraan dan peningkatan jangkauan akses ekonomi. Atau barangkali tahun-tahun ini masih masa transisi sebelum akhirnya teraplikasi secara global dengan stabil.

Kedepan sejauh mana revolusi industri 5.0 datang kita semua tak pernah tahu. Tetapi bila belajar dari fase-fase sebelumnya jarak dari tahap sebelumnya ke yang terbaru selalu mengalami pemangkasan waktu. Tidak ada pilihan lain kecuali menanti, mempelajari, dan ikut menguasai segala kemungkinan perubahan yang muncul. Ini seperti prinsip teori evolusi, ”Bukan spesies paling kuat yang bisa bertahan, tetapi spesies yang mampu beradabtasi dengan cepat.”

Surabaya, 08 Desember 2019

Iskak

  • Share:

You Might Also Like

1 komentar

  1. ayo segera bergabung dengan saya di D3W4PK
    hanya dengan minimal deposit 10.000 kalian bisa menangkan uang jutaan rupiah
    ditunggu apa lagi ayo segera bergabung, dan di coba keberuntungannya
    untuk info lebih jelas silahkan di add Whatshapp : +8558778142
    terimakasih ya waktunya ^.^

    BalasHapus